Pendalaman Alkitab Perki Bremen
"Manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa" (Roma 6:6)
Bacaan: Roma 6:1-14
Setahun: 1 Samuel 7-8
Saat lulus SMA, ijazah yang saya terima bertuliskan "Surat Tanda Tamat Belajar". Saya sudah tamat belajar? Tamat bisa diartikan lulus, tuntas, selesai, habis, atau bisa juga mati. Wah, apa tidak salah? Sebenarnya kata ini tidak sepenuhnya salah. Setiap saat kita memang harus tamat atau mati karena kematian adalah awal kehidupan baru. Jadi, rupanya maksud dari "Tanda Tamat Belajar" adalah bahwa siswa sudah mati sebagai pelajar SMA, lalu naik ke jenjang pendidikan lebih lanjut. Dari satu tahap kehidupan, ia harus meneruskan ke tahap kehidupan yang lain.
Ijazah adalah sebuah tanda. Baptisan juga memberi "tanda kematian" kepada kita. Kita dibabtis dalam kematian-Nya (ayat 3), sebagai tanda hidup baru bersama Yesus. "Tanda tamat" manusia lama yang telah disalibkan, "supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar kita jangan menghambakan diri lagi kepada dosa" (ayat 6). Kematian Yesus adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selamanya (ayat 10). Jadi, kematian-Nya juga mematikan kehidupan lama kita, yang dalam kitab Efesus disebut Paulus sebagai hidup dengan "kekerasan hati" (Efesus 4:18) atau "menyerahkan diri kepada nafsu yang menyesatkan" (ayat 19). Entah itu berdusta, marah, mencuri, berkata kotor, berkata kosong, berlaku sembrono, memfitnah, menghina, bertikai, dan segala bentuk kelaliman yang lain.
Setelah kita diberi "tanda tamat" oleh kematian-Nya, mari kita siapkan diri untuk menjalani hidup baru dalam terang Kristus, bahkan untuk berbuah kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Mari jagai hidup kita agar tidak menyerah dan menjadi senjata kelaliman. Agar diri kita sungguh mati terhadap dosa, setiap saat! -- AGS
"Bila Anda bersedia mati untuk setiap menit, Anda akan sungguh-sungguh hidup." -- Anthony de Mello, S.J.
***
diambil dari Gloria Cyber Ministries - Renungan Harian
http://www.glorianet.org/rh/032008/22.html
diunggah dan dipercantik oleh Ignatius S. Condro A.B.
Saturday, November 28, 2009
Perumpamaan tentang Talenta
Pendalaman Alkitab Perki Bremen
Bacaan: Matius 25:14-30
Saat kita menerima hadiah, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan.
Pilihan yang pertama adalah hadiah ini sangat berharga, sehingga kita tidak dapat mengambil resiko untuk membukanya. Mereka yang mengikuti pilihan pertama ini menyadari bahwa ketika hadiah dibuka, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Membuka hadiah selalu beresiko.
Respon yang kedua adalah hadiah ini sangat berharga, sehingga kita harus mengambil resiko untuk membukanya. Mereka yang mengikuti pilihan kedua menyadari bahwa dengan tidak membukanya berarti membiarkan isinya menjadi tidak berguna sama sekali. There is no tragedy like the tragedy of the unopened gift.
Kita semua diberi hadiah/talenta dalam hidup ini. Bersamaan dengan hadiah itu, kita juga dihadapkan pada pilihan apakah kita akan membuka dan menggunakan hadiah itu atau tidak. Membuka atau tidak membuka hadiah yang Tuhan berikan pada kita berhubungan erat dengan pertumbuhan kita. Manusia dan semua benda hidup diciptakan untuk bertumbuh. Kita senang melihat segala sesuatu bertumbuh, contoh: orang tua yang melihat anaknya tumbuh, pemimpin perusahaan yang melihat perusahaannya berkembang, dll. Pertumbuhan adalah suatu mukjizat. Untuk bertumbuh, kita dihadapkan pada resiko, sama seperti pilihan untuk membuka hadiah.
Contoh: Cerita Yesus berjalan di atas air (Matius 14:22-33)
Ada dua karakter dalam cerita itu, yaitu Petrus dan murid-murid yang lain.
Referensi:
Ortberg, J. 2001. If you want to walk on water, you've got to get out of the boat. Chapter 2. Zondervan, Grand Rapids, Michigan 49530
***
Perumpamaan tentang talenta
(Matius 25:14-30)
Yesus mengajarkan kita 3 prinsip dasar tentang Tuhan, Tuan dalam hidup kita, yang menawarkan kesempatan besar pada kita:
1. Dia adalah Allah pemberi (ayat 14-18)
Keberadaan dan sifat Yesus sebagai tuan
........................................................................
Jadi Yesus menceritakan perumpamaan tentang talenta ini karena Allah Sang Pemberi menawarkan satu kesempatan besar dalam hidup kita.
Respon para hamba: Apa yang ketiga orang itu lakukan? (ayat 16-18)
Dari cerita ini kita bisa mendapatkan makna bahwa
2. Dia adalah Allah yang memperhitungkan (ayat 19-30)
Sang Tuan ternyata tidak membiarkan ketiga orang itu tanpa membuat perhitungan (ayat 19). Hamba ketiga tidak menyadari hal yang tidak terelakan dalam hidupnya. Dia lupa bahwa Sang Tuan, pasti kembali.
Tentang hamba ketiga, mengapa dia berbuat demikian?
3. Dia adalah Allah yang memberi penghargaan
4. Respon dan penerapan (ayat 29-30)
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Bacaan: Matius 25:14-30
Saat kita menerima hadiah, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan.
Pilihan yang pertama adalah hadiah ini sangat berharga, sehingga kita tidak dapat mengambil resiko untuk membukanya. Mereka yang mengikuti pilihan pertama ini menyadari bahwa ketika hadiah dibuka, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Membuka hadiah selalu beresiko.
Respon yang kedua adalah hadiah ini sangat berharga, sehingga kita harus mengambil resiko untuk membukanya. Mereka yang mengikuti pilihan kedua menyadari bahwa dengan tidak membukanya berarti membiarkan isinya menjadi tidak berguna sama sekali. There is no tragedy like the tragedy of the unopened gift.
Kita semua diberi hadiah/talenta dalam hidup ini. Bersamaan dengan hadiah itu, kita juga dihadapkan pada pilihan apakah kita akan membuka dan menggunakan hadiah itu atau tidak. Membuka atau tidak membuka hadiah yang Tuhan berikan pada kita berhubungan erat dengan pertumbuhan kita. Manusia dan semua benda hidup diciptakan untuk bertumbuh. Kita senang melihat segala sesuatu bertumbuh, contoh: orang tua yang melihat anaknya tumbuh, pemimpin perusahaan yang melihat perusahaannya berkembang, dll. Pertumbuhan adalah suatu mukjizat. Untuk bertumbuh, kita dihadapkan pada resiko, sama seperti pilihan untuk membuka hadiah.
Contoh: Cerita Yesus berjalan di atas air (Matius 14:22-33)
Ada dua karakter dalam cerita itu, yaitu Petrus dan murid-murid yang lain.
- Petrus adalah contoh orang yang memilih pilihan kedua ketika dia berhadapan dengan pilihan untuk berjalan di atas air.
- Orang yang tetap diam di dalam perahu adalah mereka yang mengikuti pilihan pertama.
Referensi:
Ortberg, J. 2001. If you want to walk on water, you've got to get out of the boat. Chapter 2. Zondervan, Grand Rapids, Michigan 49530
***
Perumpamaan tentang talenta
(Matius 25:14-30)
Yesus mengajarkan kita 3 prinsip dasar tentang Tuhan, Tuan dalam hidup kita, yang menawarkan kesempatan besar pada kita:
1. Dia adalah Allah pemberi (ayat 14-18)
Keberadaan dan sifat Yesus sebagai tuan
........................................................................
Jadi Yesus menceritakan perumpamaan tentang talenta ini karena Allah Sang Pemberi menawarkan satu kesempatan besar dalam hidup kita.
Respon para hamba: Apa yang ketiga orang itu lakukan? (ayat 16-18)
- Hamba pertama dan kedua ...............................................................
- Hamba ketiga .....................................................................................
Dari cerita ini kita bisa mendapatkan makna bahwa
- Tuhan adalah Tuan yang sangat murah hati
- Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki talent
- Bahkan, Tuhan mengajak kita berpartner dalam mengembangkan talenta itu.
2. Dia adalah Allah yang memperhitungkan (ayat 19-30)
Sang Tuan ternyata tidak membiarkan ketiga orang itu tanpa membuat perhitungan (ayat 19). Hamba ketiga tidak menyadari hal yang tidak terelakan dalam hidupnya. Dia lupa bahwa Sang Tuan, pasti kembali.
Tentang hamba ketiga, mengapa dia berbuat demikian?
- iri hati
- Membandingkan talentanya dengan yang lain?
- Ayat 25 .........................................................................
- Ayat 26 .........................................................................
3. Dia adalah Allah yang memberi penghargaan
- Respon Sang Tuan ketika mendapatkan hambanya berhadil mengembangkan talenta (ayat 21 dan 23) ..........................................................
- Bagi dia yang menguburkan talenta (ayat 26, 28, 30) .....................................................
4. Respon dan penerapan (ayat 29-30)
- Harga yang harus dibayar dengan keluar dari perahu (seperti Petrus, hamba pertama dan kedua) ...............................................................................
- Harga yang harus dibayar dengan tetap diam di dalam perahu (seperti murid-murid lain dan hamba ketiga) ............................................................
- Penerapan .........................................................................
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Iman dan Janji Allah
Pendalaman Alkitab Perki Bremen
Pada suatu ketika sekelompok orang bertanya kepada Yesus bagaimana mereka dapat mengerjakan pekerjaan Allah. Yesus menjawab "inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Allah!" (Yohanes 6:29). Allah menghendaki kepercayaan dan iman dari setiap orang karena "Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:6). Tetapi seringkali dalam masyarakat modern, iman tidak lebih daripada pikiran yang muluk-muluk; "Saya harap segala sesuatu akan berjalan dengan lancar. Saya "beriman" bahwa hal itu akan terjadi." Konsep iman menurut pandangan Alkitab jauh melampaui pemikiran dangkal seperti itu dan iman merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk berjalan dengan Kristus.
A. HIDUP OLEH IMAN
Iman bukan perasaan atau kesan. Iman bukan juga suatu kebenaran yang kita yakini sendiri atau semacam indoktrinasi diri. Iman berarti percaya dan menerima begitu saja apa yang telah dijanjikan Allah dalam Alkitab. Seperti sikap percaya dan menerima yang dimiliki seorang anak, iman ialah tetap percaya meskipun tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Iman hanya mengandalkan janji dan pembuat janji. (Mendoakan janji Allah, Tom Yeakly)
1. Bagaimana definisi iman menurut Ibrani 11:1?
2. Apakah yang dimungkinkan oleh iman kepada Allah?
3. Hal-hal penting apakah yang kita pelajari dalam kehidupan iman Abraham?
Kapan waktunya mulai beriman?
4. Dari Matius 7:7-11, Yesus menyuruh kita untuk meminta, mencari, dan mengetok bila kita bisa menerima ini sebagai kegiatan terus menerus dan bukan hanya satu kali saja. Tetapi kita sering cepat putus asa dan menentukan sendiri batas akhir jawaban Allah atas doa kita. Apa yang kita pelajari dari ayat-ayat ini mengenai kesabaran dan iman?
B. IMAN KEPADA JANJI ALLAH
Janji adalah suatu yang dapat dipercayai, sesuatu yang dapat dipegang dengan penuh keyakinan. Seperti janji-janji seorang ayah kepada anak-anaknya, di dalam Alkitab terdapat janji Allah bagi anak-anak rohaniNya. Ada janji yang bersifat umum yang diberikan untuk banyak orang dan sepanjang waktu, ada janji khusus kepada seseorang sesuai dengan situasi unik pada waktu tertentu.
5. Bagaimana sifat yang dimiliki Allah?
6. Allah telah memberikan janji-janji di dalam FirmanNya? Apa yang dijanjikanNya
7. Pelajari kehidupan tokoh-tokoh di bawah ini, bagaimana mereka mengklaim dan meyakini janji Allah dalam pergumulan hidupnya?
8. Hal-hal apakah yang menyebabkan kita tidak mendapatkan apa yang kita imani?
C. PENERAPAN
Bagaimana cara memegang janji-janji Allah?
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Pada suatu ketika sekelompok orang bertanya kepada Yesus bagaimana mereka dapat mengerjakan pekerjaan Allah. Yesus menjawab "inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Allah!" (Yohanes 6:29). Allah menghendaki kepercayaan dan iman dari setiap orang karena "Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:6). Tetapi seringkali dalam masyarakat modern, iman tidak lebih daripada pikiran yang muluk-muluk; "Saya harap segala sesuatu akan berjalan dengan lancar. Saya "beriman" bahwa hal itu akan terjadi." Konsep iman menurut pandangan Alkitab jauh melampaui pemikiran dangkal seperti itu dan iman merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk berjalan dengan Kristus.
A. HIDUP OLEH IMAN
Iman bukan perasaan atau kesan. Iman bukan juga suatu kebenaran yang kita yakini sendiri atau semacam indoktrinasi diri. Iman berarti percaya dan menerima begitu saja apa yang telah dijanjikan Allah dalam Alkitab. Seperti sikap percaya dan menerima yang dimiliki seorang anak, iman ialah tetap percaya meskipun tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Iman hanya mengandalkan janji dan pembuat janji. (Mendoakan janji Allah, Tom Yeakly)
1. Bagaimana definisi iman menurut Ibrani 11:1?
2. Apakah yang dimungkinkan oleh iman kepada Allah?
- Matius 21:22
- Efesus 3:12
- 1 Yohanes 5:4,5
- Efesus 6:16
3. Hal-hal penting apakah yang kita pelajari dalam kehidupan iman Abraham?
- Roma 4:20,21
- Ibrani 11:8-12
Kapan waktunya mulai beriman?
4. Dari Matius 7:7-11, Yesus menyuruh kita untuk meminta, mencari, dan mengetok bila kita bisa menerima ini sebagai kegiatan terus menerus dan bukan hanya satu kali saja. Tetapi kita sering cepat putus asa dan menentukan sendiri batas akhir jawaban Allah atas doa kita. Apa yang kita pelajari dari ayat-ayat ini mengenai kesabaran dan iman?
- Yesaya 40:31
- Yakobus 1:3-4
B. IMAN KEPADA JANJI ALLAH
Janji adalah suatu yang dapat dipercayai, sesuatu yang dapat dipegang dengan penuh keyakinan. Seperti janji-janji seorang ayah kepada anak-anaknya, di dalam Alkitab terdapat janji Allah bagi anak-anak rohaniNya. Ada janji yang bersifat umum yang diberikan untuk banyak orang dan sepanjang waktu, ada janji khusus kepada seseorang sesuai dengan situasi unik pada waktu tertentu.
5. Bagaimana sifat yang dimiliki Allah?
- Bilangan 23:19
- Ayub 42:2
6. Allah telah memberikan janji-janji di dalam FirmanNya? Apa yang dijanjikanNya
- Filipi 4:19
- Yeremia 33:3
- Roma 8:32
7. Pelajari kehidupan tokoh-tokoh di bawah ini, bagaimana mereka mengklaim dan meyakini janji Allah dalam pergumulan hidupnya?
- Nehemia (Nehemia 1:1-11)
- Daud (2 Samuel 7)
- Musa (Keluaran 32:11-15)
- Abraham (Ibrani 11:8-17)
- Sadrakh, Mesakh, Abednego (Daniel 3:16-26)
8. Hal-hal apakah yang menyebabkan kita tidak mendapatkan apa yang kita imani?
- Tidak percaya (Markus 6:1-6)
- Tidak taat (Yohanes 14:21)
- Kurang sabar (Efesus 6:18)
- Salah memegang janji (Yakobus 4:3)
C. PENERAPAN
Bagaimana cara memegang janji-janji Allah?
- Serahkanlah kehidupan kepada Dia.
- Berdoa dan meminta pimpinan-Nya.
- Carilah janji-janji itu. Tafsirkan dengan benar, kenali latar-belakangnya, renungkan dan doakan.
- Peganglah janji itu bila kita merasa damai sejahtera dan berdoalah bahwa kita mempercayai janji itu.
- Selama berdoa, ujilah apakah janji itu bertahan setelah melalui bimbingan Ilahi. Mintalah teman rohani untuk menolong kita melihat sisi pro-kontra secara objektif ditinjau dari sudut pandang orang kristen yang dewasa.
- Selama kita menunggu jawaban, berdoalah dengan iman dan kesabaran.
- Evaluasi. Jika kita sudah mengerjakan langkah-langkah di atas tetapi jika doa tidak menjadi kenyataan, koreksilah apakah kita sedang tidak taat, kurang percaya, kurang sabar atau salah memegang janji Allah.
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Thursday, November 26, 2009
Melihat Konflik, Melihat ke Dalam
Pendalaman Alkitab Perki Bremen 15 Desember 2006
oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
"Perdamaian... Perdamaian...
Banyak yang cinta damai...
tapi perang semakin ramai..."
(penggalan lagu Perdamaian karangan Haji Ukat)
Sering kita menghadapi konflik dengan sesama kita dengan berbagai alasan. Sebelum melibatkan diri dalam konflik, sudah selayaknya kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Apakah ada sesuatu dalam diri kita yang menyediakan bara atau api yang menyebabkan adanya api konflik.
Mari kita baca cerita berikut
(yang sudah banyak beredar dari email ke email, milis ke milis, blog ke blog, notes ke notes)
Di suatu desa yang terpencil terdapat rumah aneh yang disebut Rumah 1000 Cermin. Suatu hari Coki, anjing kecil, sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi Rumah 1000 Cermin. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Ia melompat-lompat ceria lalu menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinganya terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak kipit-kipit secepat mungkin. Ia tersenyum lebar dan tampak olehnya seribu wajah anjing dengan senyum lebar, hangat, dan bersahabat. Dia meninggalkan rumah itu sambil merasa "Tempat ini sangat menyenangkan. Coki akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Kemudian anjing lain bernama Bleki datang ke rumah itu. Dia tidak seceria Coki. Dengan perlahan, ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing yang muram dan tidak bersahabat. Dia lalu menggeram. Tampaklah seribu anjing yang menggeram dengan menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan segera keluar dari rumah, "Tempat ini sungguh menakutkan, Bleki takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
Bandingkan cerita di atas dengan Mat 22:39, Luk 10:27-28, dan Mrk 12:31,33.
Bagaimana kesan yang ditangkap?
Apa saja yang ada dalam diri kita?
Bagaimana pesan Kitab Suci dalam menghadapi konflik?
"Semua wajah di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang Anda jumpai?"
oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
"Perdamaian... Perdamaian...
Banyak yang cinta damai...
tapi perang semakin ramai..."
(penggalan lagu Perdamaian karangan Haji Ukat)
Sering kita menghadapi konflik dengan sesama kita dengan berbagai alasan. Sebelum melibatkan diri dalam konflik, sudah selayaknya kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Apakah ada sesuatu dalam diri kita yang menyediakan bara atau api yang menyebabkan adanya api konflik.
Mari kita baca cerita berikut
(yang sudah banyak beredar dari email ke email, milis ke milis, blog ke blog, notes ke notes)
Di suatu desa yang terpencil terdapat rumah aneh yang disebut Rumah 1000 Cermin. Suatu hari Coki, anjing kecil, sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi Rumah 1000 Cermin. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Ia melompat-lompat ceria lalu menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinganya terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak kipit-kipit secepat mungkin. Ia tersenyum lebar dan tampak olehnya seribu wajah anjing dengan senyum lebar, hangat, dan bersahabat. Dia meninggalkan rumah itu sambil merasa "Tempat ini sangat menyenangkan. Coki akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Kemudian anjing lain bernama Bleki datang ke rumah itu. Dia tidak seceria Coki. Dengan perlahan, ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing yang muram dan tidak bersahabat. Dia lalu menggeram. Tampaklah seribu anjing yang menggeram dengan menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan segera keluar dari rumah, "Tempat ini sungguh menakutkan, Bleki takkan pernah mau kembali ke sini lagi."
Bandingkan cerita di atas dengan Mat 22:39, Luk 10:27-28, dan Mrk 12:31,33.
Bagaimana kesan yang ditangkap?
Apa saja yang ada dalam diri kita?
- Yak 3:16
- Yak 4:1-3
- 1 Tim 6:4
Bagaimana pesan Kitab Suci dalam menghadapi konflik?
- 1 Kor 13:4-7
- Gal 6:4-5
- Ef 6:4
- Tit 3:2
- Mrk 9:35
"Semua wajah di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang Anda jumpai?"
Labels:
cermin,
damai,
konflik,
rumah 1000 cermin,
wajah
Wednesday, November 25, 2009
Ketaatan Hidup Seorang Murid
Pendalaman Alkitab Perki Bremen
Bacaan:
Saul diangkat menjadi raja pertama di atas seluruh bangsa Israel pada saat yang menentukan untuk Israel. Saat itu Israel diancam terus oleh orang Filistin yang mendiami daratan di pinggir Laut Tengah tetapi yang hendak naik ke daerah pegunungan yang didiami bangsa Israel. Pada 1 Samuel 11 diuraikan bahwa setelah Musa dan Yosua, hanya Saul yang berhasil mengunpulkan seluruh bangsa Israel (semua sukunya) untuk melawan musuh mereka. Dengan demikian Saul menunjukkan keperkasaannya. Akan tetapi, tak lama lagi Saul ditolak oleh Tuhan sebagai raja bagi umat pilihan-Nya. Penolakannya dicantumkan pada 1 Samuel 15. Itu karena ketidaktaatannya.
Perintah Tuhan yang disampaikan melalui nabi Samuel jelas dan tegas - "Pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuana, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai" (1 Samuel 15:3).
Tetapi Saul menyelamatkan Agag, raja Amalek, beserta kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, anak domba dan segala yang berharga (ayat 9). Ketika ditanya Samuel mengapa semuanya tidak dibunuh, Saul menjawab, "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetap selebihnya telah kami tumpas" (ayat 15).
Saul menyatakan, "Aku mendengarkan suara TUHAN" (ayat 20) dan "Aku taat kepada suara TUHAN". Tetapi Samuel menjawab, "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja" (ayat 22-23).
Pada Keluaran 24 diuraikan mengenai upacara pengikatan perjanjian antaea TUHAN dengan bangsa Israel. Pada waktu itu bangsa Israel menyatakan pada ayat 7, "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan (yaitu taati)". Tetapi ternyata bangsa Israel tetap tidak taat meskipun dengan mulut mereka menyatakan ingin taat kepada Tuhan. Oleh karena itu para nabi selalu menghimbau mereka untuk kembali kepada Tuhan.
Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya, Dia menegaskan kepada mereka, "jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi Dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firmanKu; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripadaKu melainkan dari Bapa yang mengutus Aku" (Yohanes 14:23-24)
Ciri khas seorang murid Tuhan Yesus ialah ketaatan. Taat kepada Tuhan. Taat kepada firman Tuhan. Taat sampai mati.
Pertanyaan
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Bacaan:
- Keluaran 24:1-8
- 1 Samuel 15:1-35
- Yohanes 14:23,24a
Saul diangkat menjadi raja pertama di atas seluruh bangsa Israel pada saat yang menentukan untuk Israel. Saat itu Israel diancam terus oleh orang Filistin yang mendiami daratan di pinggir Laut Tengah tetapi yang hendak naik ke daerah pegunungan yang didiami bangsa Israel. Pada 1 Samuel 11 diuraikan bahwa setelah Musa dan Yosua, hanya Saul yang berhasil mengunpulkan seluruh bangsa Israel (semua sukunya) untuk melawan musuh mereka. Dengan demikian Saul menunjukkan keperkasaannya. Akan tetapi, tak lama lagi Saul ditolak oleh Tuhan sebagai raja bagi umat pilihan-Nya. Penolakannya dicantumkan pada 1 Samuel 15. Itu karena ketidaktaatannya.
Perintah Tuhan yang disampaikan melalui nabi Samuel jelas dan tegas - "Pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuana, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai" (1 Samuel 15:3).
Tetapi Saul menyelamatkan Agag, raja Amalek, beserta kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, anak domba dan segala yang berharga (ayat 9). Ketika ditanya Samuel mengapa semuanya tidak dibunuh, Saul menjawab, "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetap selebihnya telah kami tumpas" (ayat 15).
Saul menyatakan, "Aku mendengarkan suara TUHAN" (ayat 20) dan "Aku taat kepada suara TUHAN". Tetapi Samuel menjawab, "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja" (ayat 22-23).
Pada Keluaran 24 diuraikan mengenai upacara pengikatan perjanjian antaea TUHAN dengan bangsa Israel. Pada waktu itu bangsa Israel menyatakan pada ayat 7, "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan (yaitu taati)". Tetapi ternyata bangsa Israel tetap tidak taat meskipun dengan mulut mereka menyatakan ingin taat kepada Tuhan. Oleh karena itu para nabi selalu menghimbau mereka untuk kembali kepada Tuhan.
Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya, Dia menegaskan kepada mereka, "jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi Dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firmanKu; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripadaKu melainkan dari Bapa yang mengutus Aku" (Yohanes 14:23-24)
Ciri khas seorang murid Tuhan Yesus ialah ketaatan. Taat kepada Tuhan. Taat kepada firman Tuhan. Taat sampai mati.
Pertanyaan
- Apakah yang dapat kita pelajari dari peringatan pada 2 Tesalonika 1:6-8?
- Bagaimanakah dapat kita berpegang pada prinsip yang diutarakan oleh Petrus dan Yohanes pada Kis 4:19?
- Apakah yang dapat kita pelajari dari contoh Tuhan Yesus pada Ibrani 5:7-10?
- Apakah yang dapat kita pelajari dari contoh Abraham pada Ibrani 11:8-10?
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Sunday, November 22, 2009
Enrico, Sang Pengampun
Bila ada seseorang yang menyakiti Anda dengan dalam, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda membalas rasa sakit hati itu dengan cara membalas menyakiti juga? Ataukah Anda hanya berdiam diri saja, tanpa mencari solusi yang tepat akan masalah tersebut? Atau apakah justru mengampuni orang yang telah menyakiti Anda? Enrico memberi pelajaran penting bagi saya untuk mengampuni lawan dan orang yang tidak saya sukai dan mengambil penerapan yang kreatif hari ini (fx476).
HARGA SEBUAH PENGAMPUNAN
Di Paris, sebelum Perang Dunia II, tinggal seorang Perancis keturunan Italia bernama Enrico. Dia berusaha di bidang bisnis konstruksi. Tidak lama setelah mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat secara pribadi, dia keluar pada larut malam, berjalan-jalan di tempat penjualan kayu miliknya.
Pada saat itu, dia melihat dua bayangan melompat dari sebuah truk dan berjalan memasuki tempat penjualan kayunya. Dia berhenti dan berdoa.
"Tuhan, apa yang harus kulakukan?" Sebuah rencana memasuki pikirannya.
Dia berjalan menuju kedua orang yang sedang memuat beberapa batang kayunya itu ke truk mereka. Dengan tenang, dia mulai membantu menolong mereka mengangkut kayu.
Setelah beberapa menit, dia bertanya kepada mereka, "Untuk apa kayu-kayu ini?"
Mereka memberitahunya dan dia menunjuk ke tumpukan kayu yang lain. "Kayu yang di sana itu lebih baik untuk itu," jelasnya.
Ketika truk itu sudah penuh, seorang dari mereka berkata kepada Enrico, "Engkau jelas seorang pencuri yang baik!"
"Oh, tetapi aku bukan seorang pencuri," jawabnya.
"Tentu saja! Kau telah menolong kami tengah malam begini. Kau tahu apa yang kami lakukan."
"Ya, aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku bukan seorang pencuri," katanya. "Kalian tahu, aku bukan pencuri karena ini adalah tempat penjualan kayu milikku dan ini adalah kayuku."
Kedua orang itu sangat ketakutan. Orang Kristen itu menjawab, "Jangan takut. Aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku memutuskan untuk tidak memanggil polisi. Jelas kalian belum tahu bagaimana untuk hidup secara benar, jadi aku akan mengajari kalian. Kalian boleh memiliki kayu itu, tetapi lebih dulu aku ingin kalian mendengar apa yang perlu kukatakan."
Dia memiliki dua orang pendengar! Kemudian pria itu mendengarkannya, dan tiga hari kemudian keduanya bertobat. Yang satu menjadi pendeta dan yang lainnya menjadi pemimpin gereja. Sejumlah kayu adalah harga yang terlalu murah bagi dua jiwa. Yesus mengajar kita, bahwa satu jiwa jauh lebih berharga daripada seluruh dunia.
Jadi, bukan pemberian kayu itu yang membuat kedua orang itu datang kepada Kristus, melainkan tindakan pengampunan yang diulurkannya ketika mereka tertangkap sedang mencuri. Mereka tahu Enrico dapat saja membuat mereka tertangkap dan mereka tahu juga, bahwa orang ini mengampuni mereka, bahkan sebelum mereka bertobat. Tindakan seperti itulah yang dilakukan Yesus di kayu salib. Dia mengulurkan pengampunan-Nya kepada kita sebelum kita bertobat.
Langkah pengampunan berikutnya yang dilakukan oleh Enrico lebih mahal daripada sejumlah kayu.
Peristiwa ini terjadi setelah Nazi menginvasi dan mengambil alih Perancis. Pada suatu malam, sebuah keluarga Yahudi datang ke rumahnya. Dia membawa mereka masuk, menyembunyikan mereka dari Gestapo selama dua tahun. Akhirnya, seseorang menemukan rahasianya dan melaporkannya. Gestapo datang dan mengambil keluarga Yahudi itu, kemudian menangkap Enrico.
Natal 1944, beberapa bulan setelah penangkapannya, Enrico masih di penjara. Komandan kamp memanggilnya untuk melihat hidangan lezat yang tersaji di atas meja. Komandan itu berkata, "Aku ingin kamu melihat makan malam Natal yang dikirimkan istrimu untukmu sebelum aku menikmatinya. Istrimu juru masak yang hebat! Dia telah mengirimimu makanan setiap hari selama kamu di penjara dan akulah yang menikmati semua makanan itu."
Saudara Kristen kita ini amat kurus, hanya tinggal tulang dibungkus kulit. Matanya kosong memancarkan rasa lapar. Tetapi dia melihat ke makanan yang tersaji di atas meja itu dan berkata, "Aku tahu istriku ahli masak yang hebat! Aku yakin engkau pasti menikmati makan malam Natal ini."
Komandan itu memintanya untuk mengulangi apa yang dikatakannya. Enrico mengulangi ucapannya dan menambahkan, "Aku harap engkau menikmati makan malam ini karena aku mengasihimu."
Komandan itu berteriak, "Keluarkan dia dari sini! Dia sudah gila!"
Perang berakhir dan Enrico dibebaskan. Perlu waktu dua tahun baginya untuk memulihkan kembali kesehatannya. Dan Allah juga mulai memberkati usahanya kembali.
Dia memutuskan untuk mengajak istrinya kembali ke kota tempat dia dipenjarakan, untuk mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nyawanya.
Ketika mereka tiba, mereka mendapat kabar, bahwa mantan komandan penjara itu tinggal di desa yang sama. Sekali lagi, Allah memberi sebuah gagasan kepada Enrico untuk pengampunan yang kreatif. Dia teringat bahwa komandan itu senang pada masakan istrinya. Mereka berbelanja, mencari sebuah tempat untuk memasaknya dan tidak lama kemudian, mereka muncul di pintu rumah komandan itu dengan dua keranjang makanan.
Mereka diundang masuk. Kemudian Enrico berkata, "Engkau tidak mengenali saya, bukan?" Enrico jelas telah berubah. Berat badannya telah kembali seperti semula.
Komandan itu menggelengkan kepalanya.
Kemudian Enrico mengingatkannya, "Pada hari Natal tahun 1944, saya sedang berada di kantormu. Saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan engkau menganggap saya gila."
Mantan komandan itu tampak pucat dan menjauhinya. Teman Kristen kita berkata, "Jangan takut! Kami tidak datang untuk menyakitimu. Dulu saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan saya masih tetap mengasihimu."
Komandan itu berdiri terpaku dengan mata menerawang.
"Saya tidak gila, saya benar-benar mengasihimu. Dan saya ingin menunjukkan kepadamu bahwa saya serius. Perang telah usai. Sekarang waktu damai. Istri saya dan saya ingin duduk bersamamu dan istrimu untuk makan bersama. Maukah engkau menerima permohonan kami?"
Saat mereka mulai menikmati makanan melimpah yang dimasak istri Enrico, komandan itu tiba-tiba menurunkan pisau dan garpunya. "Apa yang hendak kaulakukan terhadapku?"
Teman Kristen kita menjawab, "Tidak ada. Kami hanya ingin engkau tahu bahwa kami mengasihimu. Kami mengampunimu."
"Bagaimana engkau dapat melakukan hal itu?"
"Kami jelas tidak mampu melakukan hal ini dengan kekuatan kami sendiri," kata Enrico, "tetapi Yesus Kristus mengajari kami untuk mengampuni." Enrico bersaksi tentang Yesus, dan sebelum orang itu dapat melanjutkan makannya, dia berlutut untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya pribadi.
Bahan diambil dari sumber:
Judul buku: Menang Dengan Cara Allah
Judul asli: Winning God's Way
Penulis : Loren Cunningham dan Janice Rogers
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2000
Halaman : 123 -- 127
***
Tulisan ini diambil dari blog lama Perki Bremen
HARGA SEBUAH PENGAMPUNAN
Di Paris, sebelum Perang Dunia II, tinggal seorang Perancis keturunan Italia bernama Enrico. Dia berusaha di bidang bisnis konstruksi. Tidak lama setelah mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat secara pribadi, dia keluar pada larut malam, berjalan-jalan di tempat penjualan kayu miliknya.
Pada saat itu, dia melihat dua bayangan melompat dari sebuah truk dan berjalan memasuki tempat penjualan kayunya. Dia berhenti dan berdoa.
"Tuhan, apa yang harus kulakukan?" Sebuah rencana memasuki pikirannya.
Dia berjalan menuju kedua orang yang sedang memuat beberapa batang kayunya itu ke truk mereka. Dengan tenang, dia mulai membantu menolong mereka mengangkut kayu.
Setelah beberapa menit, dia bertanya kepada mereka, "Untuk apa kayu-kayu ini?"
Mereka memberitahunya dan dia menunjuk ke tumpukan kayu yang lain. "Kayu yang di sana itu lebih baik untuk itu," jelasnya.
Ketika truk itu sudah penuh, seorang dari mereka berkata kepada Enrico, "Engkau jelas seorang pencuri yang baik!"
"Oh, tetapi aku bukan seorang pencuri," jawabnya.
"Tentu saja! Kau telah menolong kami tengah malam begini. Kau tahu apa yang kami lakukan."
"Ya, aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku bukan seorang pencuri," katanya. "Kalian tahu, aku bukan pencuri karena ini adalah tempat penjualan kayu milikku dan ini adalah kayuku."
Kedua orang itu sangat ketakutan. Orang Kristen itu menjawab, "Jangan takut. Aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku memutuskan untuk tidak memanggil polisi. Jelas kalian belum tahu bagaimana untuk hidup secara benar, jadi aku akan mengajari kalian. Kalian boleh memiliki kayu itu, tetapi lebih dulu aku ingin kalian mendengar apa yang perlu kukatakan."
Dia memiliki dua orang pendengar! Kemudian pria itu mendengarkannya, dan tiga hari kemudian keduanya bertobat. Yang satu menjadi pendeta dan yang lainnya menjadi pemimpin gereja. Sejumlah kayu adalah harga yang terlalu murah bagi dua jiwa. Yesus mengajar kita, bahwa satu jiwa jauh lebih berharga daripada seluruh dunia.
Jadi, bukan pemberian kayu itu yang membuat kedua orang itu datang kepada Kristus, melainkan tindakan pengampunan yang diulurkannya ketika mereka tertangkap sedang mencuri. Mereka tahu Enrico dapat saja membuat mereka tertangkap dan mereka tahu juga, bahwa orang ini mengampuni mereka, bahkan sebelum mereka bertobat. Tindakan seperti itulah yang dilakukan Yesus di kayu salib. Dia mengulurkan pengampunan-Nya kepada kita sebelum kita bertobat.
Langkah pengampunan berikutnya yang dilakukan oleh Enrico lebih mahal daripada sejumlah kayu.
Peristiwa ini terjadi setelah Nazi menginvasi dan mengambil alih Perancis. Pada suatu malam, sebuah keluarga Yahudi datang ke rumahnya. Dia membawa mereka masuk, menyembunyikan mereka dari Gestapo selama dua tahun. Akhirnya, seseorang menemukan rahasianya dan melaporkannya. Gestapo datang dan mengambil keluarga Yahudi itu, kemudian menangkap Enrico.
Natal 1944, beberapa bulan setelah penangkapannya, Enrico masih di penjara. Komandan kamp memanggilnya untuk melihat hidangan lezat yang tersaji di atas meja. Komandan itu berkata, "Aku ingin kamu melihat makan malam Natal yang dikirimkan istrimu untukmu sebelum aku menikmatinya. Istrimu juru masak yang hebat! Dia telah mengirimimu makanan setiap hari selama kamu di penjara dan akulah yang menikmati semua makanan itu."
Saudara Kristen kita ini amat kurus, hanya tinggal tulang dibungkus kulit. Matanya kosong memancarkan rasa lapar. Tetapi dia melihat ke makanan yang tersaji di atas meja itu dan berkata, "Aku tahu istriku ahli masak yang hebat! Aku yakin engkau pasti menikmati makan malam Natal ini."
Komandan itu memintanya untuk mengulangi apa yang dikatakannya. Enrico mengulangi ucapannya dan menambahkan, "Aku harap engkau menikmati makan malam ini karena aku mengasihimu."
Komandan itu berteriak, "Keluarkan dia dari sini! Dia sudah gila!"
Perang berakhir dan Enrico dibebaskan. Perlu waktu dua tahun baginya untuk memulihkan kembali kesehatannya. Dan Allah juga mulai memberkati usahanya kembali.
Dia memutuskan untuk mengajak istrinya kembali ke kota tempat dia dipenjarakan, untuk mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nyawanya.
Ketika mereka tiba, mereka mendapat kabar, bahwa mantan komandan penjara itu tinggal di desa yang sama. Sekali lagi, Allah memberi sebuah gagasan kepada Enrico untuk pengampunan yang kreatif. Dia teringat bahwa komandan itu senang pada masakan istrinya. Mereka berbelanja, mencari sebuah tempat untuk memasaknya dan tidak lama kemudian, mereka muncul di pintu rumah komandan itu dengan dua keranjang makanan.
Mereka diundang masuk. Kemudian Enrico berkata, "Engkau tidak mengenali saya, bukan?" Enrico jelas telah berubah. Berat badannya telah kembali seperti semula.
Komandan itu menggelengkan kepalanya.
Kemudian Enrico mengingatkannya, "Pada hari Natal tahun 1944, saya sedang berada di kantormu. Saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan engkau menganggap saya gila."
Mantan komandan itu tampak pucat dan menjauhinya. Teman Kristen kita berkata, "Jangan takut! Kami tidak datang untuk menyakitimu. Dulu saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan saya masih tetap mengasihimu."
Komandan itu berdiri terpaku dengan mata menerawang.
"Saya tidak gila, saya benar-benar mengasihimu. Dan saya ingin menunjukkan kepadamu bahwa saya serius. Perang telah usai. Sekarang waktu damai. Istri saya dan saya ingin duduk bersamamu dan istrimu untuk makan bersama. Maukah engkau menerima permohonan kami?"
Saat mereka mulai menikmati makanan melimpah yang dimasak istri Enrico, komandan itu tiba-tiba menurunkan pisau dan garpunya. "Apa yang hendak kaulakukan terhadapku?"
Teman Kristen kita menjawab, "Tidak ada. Kami hanya ingin engkau tahu bahwa kami mengasihimu. Kami mengampunimu."
"Bagaimana engkau dapat melakukan hal itu?"
"Kami jelas tidak mampu melakukan hal ini dengan kekuatan kami sendiri," kata Enrico, "tetapi Yesus Kristus mengajari kami untuk mengampuni." Enrico bersaksi tentang Yesus, dan sebelum orang itu dapat melanjutkan makannya, dia berlutut untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya pribadi.
Bahan diambil dari sumber:
Judul buku: Menang Dengan Cara Allah
Judul asli: Winning God's Way
Penulis : Loren Cunningham dan Janice Rogers
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2000
Halaman : 123 -- 127
***
Tulisan ini diambil dari blog lama Perki Bremen
Benih vs 4 Jenis Tanah
Pendalaman Alkitab Perki Bremen, 18 Februari 2007
oleh Felix Pasila
Bacaan: Matius 13:3-23
Di dalam Perjanjian Baru (Mat 13), ada tujuh buah perumpamaan yang menjelaskan arti realita, karakteristik dan juga aspek-aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah:
Pertama, "... Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis." (Mat 13:4,19)
Ciri-ciri: Tidak butuh nasehat, merasa diri benar, tidak punya keinginan belajar dari orang lain.
Bagaimana menolong orang jenis pertama?
..............................................................................
Kedua, "... Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya karena tanahnya tipis ... sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar." (Mat 13:5-6,20-21)
Ciri-ciri: Minim penerapan, no action, menganggap pertumbuhan karakter bukan prioritas
Bagaimana menolong orang jenis kedua?
..............................................................................
Ketiga, "... Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati." (Mat 13:7,22)
Ciri-ciri: menganggap pemenuhan kebutuhan pribadi lebih penting daripada pengenalan akan Allah (sorga lebih penting daripada Yesus), tidak nyaman dengan kondisi sekarang, tidak pernah puas, mudah terpengaruh sekitar.
Bagaimana menolong orang jenis ketiga?
..............................................................................
Keempat, "... sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Mat 13:8,23)
Ciri-ciri: kebergantungan pada Allah selalu ditunjukkan, rendah hati, dan menganggap orang lain lebih utama, selalu ingin membagi kabar baik pada orang lain.
Bagaimana menolong orang jenis keempat?
..............................................................................
Penerapan:
Bagaimana dengan kehidupan Saudara? Jenis tanah apa yang Saudara miliki?
Apa peran Saudara di Perki melalui pelajaran ini?
"karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" (Filipi 2:2-3)
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
oleh Felix Pasila
Bacaan: Matius 13:3-23
Di dalam Perjanjian Baru (Mat 13), ada tujuh buah perumpamaan yang menjelaskan arti realita, karakteristik dan juga aspek-aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah:
- Penabur dan Benih
- Musuh yang Menabur Lalang (ilalang)
- Biji sesawi
- Ragi
- Harta Terpendam
- Mutiara yang Indah
- Pukat
Pertama, "... Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis." (Mat 13:4,19)
Ciri-ciri: Tidak butuh nasehat, merasa diri benar, tidak punya keinginan belajar dari orang lain.
Bagaimana menolong orang jenis pertama?
..............................................................................
Kedua, "... Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya karena tanahnya tipis ... sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar." (Mat 13:5-6,20-21)
Ciri-ciri: Minim penerapan, no action, menganggap pertumbuhan karakter bukan prioritas
Bagaimana menolong orang jenis kedua?
..............................................................................
Ketiga, "... Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati." (Mat 13:7,22)
Ciri-ciri: menganggap pemenuhan kebutuhan pribadi lebih penting daripada pengenalan akan Allah (sorga lebih penting daripada Yesus), tidak nyaman dengan kondisi sekarang, tidak pernah puas, mudah terpengaruh sekitar.
Bagaimana menolong orang jenis ketiga?
..............................................................................
Keempat, "... sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Mat 13:8,23)
Ciri-ciri: kebergantungan pada Allah selalu ditunjukkan, rendah hati, dan menganggap orang lain lebih utama, selalu ingin membagi kabar baik pada orang lain.
Bagaimana menolong orang jenis keempat?
..............................................................................
Penerapan:
Bagaimana dengan kehidupan Saudara? Jenis tanah apa yang Saudara miliki?
Apa peran Saudara di Perki melalui pelajaran ini?
"karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" (Filipi 2:2-3)
***
dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.
Labels:
benih,
biji,
pinggir jalan,
semak,
tanah,
tanah berbatu,
tanah yang baik
Subscribe to:
Posts (Atom)