Sunday, November 22, 2009

Enrico, Sang Pengampun

Bila ada seseorang yang menyakiti Anda dengan dalam, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda membalas rasa sakit hati itu dengan cara membalas menyakiti juga? Ataukah Anda hanya berdiam diri saja, tanpa mencari solusi yang tepat akan masalah tersebut? Atau apakah justru mengampuni orang yang telah menyakiti Anda? Enrico memberi pelajaran penting bagi saya untuk mengampuni lawan dan orang yang tidak saya sukai dan mengambil penerapan yang kreatif hari ini (fx476).


HARGA SEBUAH PENGAMPUNAN

Di Paris, sebelum Perang Dunia II, tinggal seorang Perancis keturunan Italia bernama Enrico. Dia berusaha di bidang bisnis konstruksi. Tidak lama setelah mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat secara pribadi, dia keluar pada larut malam, berjalan-jalan di tempat penjualan kayu miliknya.

Pada saat itu, dia melihat dua bayangan melompat dari sebuah truk dan berjalan memasuki tempat penjualan kayunya. Dia berhenti dan berdoa.

"Tuhan, apa yang harus kulakukan?" Sebuah rencana memasuki pikirannya.

Dia berjalan menuju kedua orang yang sedang memuat beberapa batang kayunya itu ke truk mereka. Dengan tenang, dia mulai membantu menolong mereka mengangkut kayu.

Setelah beberapa menit, dia bertanya kepada mereka, "Untuk apa kayu-kayu ini?"

Mereka memberitahunya dan dia menunjuk ke tumpukan kayu yang lain. "Kayu yang di sana itu lebih baik untuk itu," jelasnya.

Ketika truk itu sudah penuh, seorang dari mereka berkata kepada Enrico, "Engkau jelas seorang pencuri yang baik!"

"Oh, tetapi aku bukan seorang pencuri," jawabnya.

"Tentu saja! Kau telah menolong kami tengah malam begini. Kau tahu apa yang kami lakukan."

"Ya, aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku bukan seorang pencuri," katanya. "Kalian tahu, aku bukan pencuri karena ini adalah tempat penjualan kayu milikku dan ini adalah kayuku."

Kedua orang itu sangat ketakutan. Orang Kristen itu menjawab, "Jangan takut. Aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku memutuskan untuk tidak memanggil polisi. Jelas kalian belum tahu bagaimana untuk hidup secara benar, jadi aku akan mengajari kalian. Kalian boleh memiliki kayu itu, tetapi lebih dulu aku ingin kalian mendengar apa yang perlu kukatakan."

Dia memiliki dua orang pendengar! Kemudian pria itu mendengarkannya, dan tiga hari kemudian keduanya bertobat. Yang satu menjadi pendeta dan yang lainnya menjadi pemimpin gereja. Sejumlah kayu adalah harga yang terlalu murah bagi dua jiwa. Yesus mengajar kita, bahwa satu jiwa jauh lebih berharga daripada seluruh dunia.

Jadi, bukan pemberian kayu itu yang membuat kedua orang itu datang kepada Kristus, melainkan tindakan pengampunan yang diulurkannya ketika mereka tertangkap sedang mencuri. Mereka tahu Enrico dapat saja membuat mereka tertangkap dan mereka tahu juga, bahwa orang ini mengampuni mereka, bahkan sebelum mereka bertobat. Tindakan seperti itulah yang dilakukan Yesus di kayu salib. Dia mengulurkan pengampunan-Nya kepada kita sebelum kita bertobat.

Langkah pengampunan berikutnya yang dilakukan oleh Enrico lebih mahal daripada sejumlah kayu.

Peristiwa ini terjadi setelah Nazi menginvasi dan mengambil alih Perancis. Pada suatu malam, sebuah keluarga Yahudi datang ke rumahnya. Dia membawa mereka masuk, menyembunyikan mereka dari Gestapo selama dua tahun. Akhirnya, seseorang menemukan rahasianya dan melaporkannya. Gestapo datang dan mengambil keluarga Yahudi itu, kemudian menangkap Enrico.

Natal 1944, beberapa bulan setelah penangkapannya, Enrico masih di penjara. Komandan kamp memanggilnya untuk melihat hidangan lezat yang tersaji di atas meja. Komandan itu berkata, "Aku ingin kamu melihat makan malam Natal yang dikirimkan istrimu untukmu sebelum aku menikmatinya. Istrimu juru masak yang hebat! Dia telah mengirimimu makanan setiap hari selama kamu di penjara dan akulah yang menikmati semua makanan itu."

Saudara Kristen kita ini amat kurus, hanya tinggal tulang dibungkus kulit. Matanya kosong memancarkan rasa lapar. Tetapi dia melihat ke makanan yang tersaji di atas meja itu dan berkata, "Aku tahu istriku ahli masak yang hebat! Aku yakin engkau pasti menikmati makan malam Natal ini."

Komandan itu memintanya untuk mengulangi apa yang dikatakannya. Enrico mengulangi ucapannya dan menambahkan, "Aku harap engkau menikmati makan malam ini karena aku mengasihimu."

Komandan itu berteriak, "Keluarkan dia dari sini! Dia sudah gila!"

Perang berakhir dan Enrico dibebaskan. Perlu waktu dua tahun baginya untuk memulihkan kembali kesehatannya. Dan Allah juga mulai memberkati usahanya kembali.

Dia memutuskan untuk mengajak istrinya kembali ke kota tempat dia dipenjarakan, untuk mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nyawanya.

Ketika mereka tiba, mereka mendapat kabar, bahwa mantan komandan penjara itu tinggal di desa yang sama. Sekali lagi, Allah memberi sebuah gagasan kepada Enrico untuk pengampunan yang kreatif. Dia teringat bahwa komandan itu senang pada masakan istrinya. Mereka berbelanja, mencari sebuah tempat untuk memasaknya dan tidak lama kemudian, mereka muncul di pintu rumah komandan itu dengan dua keranjang makanan.

Mereka diundang masuk. Kemudian Enrico berkata, "Engkau tidak mengenali saya, bukan?" Enrico jelas telah berubah. Berat badannya telah kembali seperti semula.

Komandan itu menggelengkan kepalanya.
Kemudian Enrico mengingatkannya, "Pada hari Natal tahun 1944, saya sedang berada di kantormu. Saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan engkau menganggap saya gila."

Mantan komandan itu tampak pucat dan menjauhinya. Teman Kristen kita berkata, "Jangan takut! Kami tidak datang untuk menyakitimu. Dulu saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan saya masih tetap mengasihimu."

Komandan itu berdiri terpaku dengan mata menerawang.

"Saya tidak gila, saya benar-benar mengasihimu. Dan saya ingin menunjukkan kepadamu bahwa saya serius. Perang telah usai. Sekarang waktu damai. Istri saya dan saya ingin duduk bersamamu dan istrimu untuk makan bersama. Maukah engkau menerima permohonan kami?"

Saat mereka mulai menikmati makanan melimpah yang dimasak istri Enrico, komandan itu tiba-tiba menurunkan pisau dan garpunya. "Apa yang hendak kaulakukan terhadapku?"

Teman Kristen kita menjawab, "Tidak ada. Kami hanya ingin engkau tahu bahwa kami mengasihimu. Kami mengampunimu."

"Bagaimana engkau dapat melakukan hal itu?"

"Kami jelas tidak mampu melakukan hal ini dengan kekuatan kami sendiri," kata Enrico, "tetapi Yesus Kristus mengajari kami untuk mengampuni." Enrico bersaksi tentang Yesus, dan sebelum orang itu dapat melanjutkan makannya, dia berlutut untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya pribadi.

Bahan diambil dari sumber:
Judul buku: Menang Dengan Cara Allah
Judul asli: Winning God's Way
Penulis : Loren Cunningham dan Janice Rogers
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2000
Halaman : 123 -- 127


***

Tulisan ini diambil dari blog lama Perki Bremen

Benih vs 4 Jenis Tanah

Pendalaman Alkitab Perki Bremen, 18 Februari 2007
oleh Felix Pasila


Bacaan: Matius 13:3-23


Di dalam Perjanjian Baru (Mat 13), ada tujuh buah perumpamaan yang menjelaskan arti realita, karakteristik dan juga aspek-aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah:
  1. Penabur dan Benih
  2. Musuh yang Menabur Lalang (ilalang)
  3. Biji sesawi
  4. Ragi
  5. Harta Terpendam
  6. Mutiara yang Indah
  7. Pukat
Kalau digabungkan, semua perumpamaan itu menunjuk kepada sifat, asal-usul, halangan dan kemenangan pekerjaan Kristus dalam memberitakan Injil-Nya melalui utusan-Nya antara waktu kedatangan-Nya yang pertama dan yang kedua kali.


Pertama, "... Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis." (Mat 13:4,19)

Ciri-ciri: Tidak butuh nasehat, merasa diri benar, tidak punya keinginan belajar dari orang lain.
Bagaimana menolong orang jenis pertama?
..............................................................................


Kedua, "... Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya karena tanahnya tipis ... sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar." (Mat 13:5-6,20-21)

Ciri-ciri: Minim penerapan, no action, menganggap pertumbuhan karakter bukan prioritas
Bagaimana menolong orang jenis kedua?
..............................................................................


Ketiga, "... Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati." (Mat 13:7,22)

Ciri-ciri: menganggap pemenuhan kebutuhan pribadi lebih penting daripada pengenalan akan Allah (sorga lebih penting daripada Yesus), tidak nyaman dengan kondisi sekarang, tidak pernah puas, mudah terpengaruh sekitar.
Bagaimana menolong orang jenis ketiga?
..............................................................................


Keempat, "... sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Mat 13:8,23)

Ciri-ciri: kebergantungan pada Allah selalu ditunjukkan, rendah hati, dan menganggap orang lain lebih utama, selalu ingin membagi kabar baik pada orang lain.
Bagaimana menolong orang jenis keempat?
..............................................................................




Penerapan:
Bagaimana dengan kehidupan Saudara? Jenis tanah apa yang Saudara miliki?
Apa peran Saudara di Perki melalui pelajaran ini?


"karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" (Filipi 2:2-3)

***

dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.

Thursday, November 5, 2009

Pencobaan dan Penderitaan

Kadang kala hal-hal kecil dapat membuat kita jatuh, bukan? Komentar yang tidak mengenakkan dari seorang teman, kabar buruk dari montir mobil, kesulitan keuangan, atau anak yang sulit diatur dapat memunculkan awan kemuraman di atas segala hal, bahkan di hari yang cerah sekalipun. Anda sadar bahwa Anda harus bersukacita, namun tampaknya segala sesuatu menentang Anda, sehingga membuat tugas-tugas sederhana menjadi pergumulan berat.

TELADAN DAUD (Mazmur 6)

1. Yang dirasakan Daud saat dalam pergumulan (ayat 3-8): ____________________

2. Reaksi Daud saat mengalami kejatuhan (ayat 9-11): ____________________

TUJUAN PENDERITAAN

Penderitaan dapat membawa kita pada kehidupan yang lebih dalam dan penuh bila kita terima dengan kesabaran dan kerendahan hati.

3. Tujuan dan fungsi penderitaan

Mzm. 199:67 _______________

Mzm. 119: 71 _______________

2 Kor 12:9 _______________

Yak 1:2- 4 _______________

MENGANDALKAN KRISTUS DALAM PENCOBAAN

Saat kita memandang ke atas dan memusatkan perhatian kepada Allah, maka sesuatu yang baik terjadi. Mata kita tidak lagi tertuju kepada diri sendiri dan kita pun memperoleh sikap penghargaan yang baru terhadap Dia. Jika di kemudian hari Anda jatuh, cobalah memandang ke atas kepada Allah.

4. Karena Tuhan Yesus, Putra Allah, telah menjadi manusia, maka Dia juga dapat memahami berbagai ujian dan pencobaan yang kita hadapi. Dia memahami setiap dukacita, derita, dan kesulitan yang kita hadapi.

Ibrani 2: 18 _______________

Ibrani 4: 15 _______________

Ibrani 2: 14-17 _______________

5. Alasan kita bisa mengandalkan Kristus dalam pencobaan:

Mazmur 47:9 ____________________

Mat. 6:26 ________________________

1 Yoh. 4:9,10 ____________________

Yak 1: 2-4 ________________________

Hidup kerap kali tampak tak tertahankan. Namun, janganlah hal itu membuat Anda terus jatuh. Renungkanlah kebaikan Allah, berbicaralah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Dia mendengarkan Anda (Mazmur 6:10). Semua itu akan memberi Anda kekuatan untuk bangkit saat Anda jatuh —Dave Branon

PENERAPAN: ______________________________




***

diambil dari Blog lama Perki Bremen

Suatu Hubungan yang Baru

Pendalaman Alkitab Perki Bremen
Eksposisi Yohanes 15


Bacaan:
Yohanes 15:1-8



Pengantar:

Ada banyak orang yang bertanya, sebenarnya apakah yang membedakan antara iman orang Kristen dengan yang bukan Kristen. Dan jawaban terperincinya pun juga ada banyak. Salah satu di antaranya adalah dalam hal hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Kali ini kita akan melihatnya dari sudut pandang yang umum dalam kekristenan, yaitu melihat dari ilustrasi yang diberikan oleh Yesus sendiri.


Renungan:

Q1: Bagaimana Yesus menggambarkan hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya dalam ilustrasi pokok anggur tersebut?
Yoh 15:4-5
Yoh 15:1,15

Q2: Mengapa kita harus tinggal dan menjadi satu dengan pokok anggur tersebut?
Yoh 15:4-5,18-19
Yoh 15:7-8
Yoh 15:11

Q3: Kehidupan seperti apakah yang dimaksud dengan "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu"?
Yoh 15:2-3,6
Yoh 15:9-10,12-13,17
Yoh 15:26-27


Penutup:

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya dan berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama, dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya, dia belajar untuk menahan diri. Lalu jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata "Anakku, kamu sudah berlaku baik tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar."


"Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." (Kolose 2:7)


***

dipercantik oleh Ignatius Sapto Condro A.B.

Wednesday, November 4, 2009

Bersahabat dengan Yesus

oleh Dewi Kriswanti

Pendalaman Alkitab Perki Bremen

Bacaan: Lukas 19:1-10


Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (Lukas 19:5)

Dalam masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus tidak cuma bergaul dengan kalangan bawah tapi juga dengan para petinggi negara dan tokoh masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Yesus adalah kasih yang tulus dan murni, tak terpengaruh oleh golongan, ras, dan suku bangsa. Yesus pernah menolong Bartimeus yang buta dan gelandangan, tapi Yesus pun pernah menolong seorang pemungut cukai seperti Zakheus. Begitu pula dengan perempuan Samaria, Ia pernah bercakap-cakap dan menyampaikan perumpamaan-Nya yang bermakna dalam. Dalam perjalanan-Nya, Yesus juga pernah menyembuhkan perempuan yang telah menderita selama dua belas tahun pendarahan (Mar. 5:25-34).


Berbagai aktivitas pelayanan yang pernah Yesus lakukan menunjukkan:
  1. Yesus adalah pribadi yang tulus. Tak ada kemunafikan yang disimpan-Nya. Ketika kita bersahabat dengan Yesus, Ia menjadi faktor yang mampu membangun motivasi kita untuk melakukan segala sesuatu dengan tulus.
  2. Yesus memiliki karakter yang terbuka dan setia. Keterbukaan ditunjukkan Yesus dengan menerima siapapun yang mau datang pada-Nya. Seorang kaya, berpangkat atau pengemis sekalipun, jika mau datang pada-Nya, akan disambut Yesus dengan tangan terbuka. Begitu pula kesetiaan-Nya sungguh teruji dan dahsyat. Meski berkali-kali kita menyakiti hati Yesus, Ia tetap setia. Jadi belajarlah untuk tekun dan setia berjalan bersama-Nya.
  3. Yesus memiliki sifat yang suka menolong. Sebagai sahabat yang sejati, Ia tak sungkan mengorbankan segala sesuatunya bagi hidup manusia. Bahkan nyawa-Nya sendiri rela dikorbankan untuk menebus hidup kita dari dosa dan maut. Kita pun seharusnya bisa merefleksikan iman dengan membuka hati dan membantu yang membutuhkan pertolongan. Tidak mengeksklusifkan diri, memandang remeh orang lain, dan mengeraskan hati atas penderitaan orang lain.

Nas bacaan kita hari ini juga menunjukkan bahwa Yesus juga membuka diri untuk bersahabat dengan siapapun, termasuk Saudara dan saya. Sikap-Nya, yang terbuka, mengundang kita untuk datang mendekat kepada-Nya. Lakukanlah selagi masih ada kesempatan!


Doa:
Terima kasih, Bapa, atas kasih karunia-Mu yang melingkupi hidup kami.
Amin!

SIAPAKAH SAHABAT SEJATI YANG SETIA?
HANYA ADA SATU NAMA YAITU YESUS KRISTUS.

***



The Agents of Change

Pendalaman Alkitab Perki Bremen

Bacaan: Keluaran 3:1-15


Ada banyak hal yang bisa terjadi dalam hidup seseorang yang bisa membawa perubahan besar dalam diri orang tersebut. Ada kalanya perubahan tersebut datang secara tiba-tiba (tak terduga) dan bersifat dramatis, namun tak jarang perubahan tersebut dapat diamati dan diprediksi karena terjadi secara perlahan-lahan. Secara psikologis-teologis, perubahan yang terjadi dalam diri manusia bisa terjadi dalam dua aspek berikut: perubahan cara pikir dan perubahan tujuan hidup.

Namun tidak semua perubahan tersebut selalu membawa kesenangan dan bahkan seringkali membuat rasa tidak nyaman bagi yang mengalaminya. Itu sebabnya, ada tipikal orang-orang tertentu yang tidak menyukai terjadinya perubahan dalam kehidupan yang mereka jalani. Mereka lebih suka hidup tenang tanpa penyesuaian diri terhadap hal-hal yang baru dan cenderung apatis (bandingkan Kel 16:2-3). Istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan kondisi ini adalah status quo. Sebaliknya, ada juga orang yang merasa tidak bisa diam dan selalu ingin mengalami sesuatu yang baru. Orang-orang seperti ini cenderung dinamis dan kadang-kadang muncul sikap ekstrim yang sering disebut sebagai "anti-kemapanan". Dua temperamen berikut: flegmatik dan melankolik, cenderung masuk dalam kelompok pertama. Sedangkan dua temperamen berikut: kolerik dan sanguin, cenderung masuk kelompok kedua.

Kita sebagai orang-orang yang sudah ditebus, memandang perubahan sebagai sesuatu yang positif dan belajar untuk menerimanya sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)

Diskusikan beberapa hal berikut. Menurut Anda, apakah peran Allah dalam hal perubahan dalam hidup kita?
  • Roma 8:28
  • Ayub 1:6-12
  • Roma 12:2
  • Matius 5:16
  • Maleakhi 3:6

Dan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perubahan yang terjadi dalam hidup kita?
  • Yesaya 30:15-16
  • Lukas 1:26-38
  • Filipi 4:8-9
  • II Timotius 3:12-17
  • Matius 6:33-34


Refleksi:
Diskusikan dengan rekan-rekan Saudara, perubahan apa yang pernah Saudara alami dan bagaimana Anda melewatinya. Ceritakan juga perubahan besar apa yang sedang Anda alami dan proses apa yang Allah inginkan terjadi dalam perubahan tersebut.


***



Sunday, November 1, 2009

Penguasaan diri seorang murid

oleh Yadi Rayendra


Pembacaan Alkitab:
  • 2 Timotius 4:1-5
  • 2 Petrus 1:3-11

Waktu Rasul Paulus menyatakan pembelaannya di depan Agripa maka berkatalah "Festus dengan suara keras, 'Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila'" (Kis 26:24). Festus menganggap Paulus gila karena Paulus percaya pada kebangkitan daging yang merupakan suatu gagasan yang sama sekali tidak masuk akal bagi orang terpelajar pada kerajaan Romawi.

Jelaslah juga bahwa mereka yang melawan Paulus di gereja Korintus dan yang dikenal sebagi "rasul-rasul yang luar biasa" (2 Kor 12:11) suka mengejek Paulus dengan menyatakan bahwa dia 'kurang waras'. Ejekan ini melatarbelakangi 2 Kor 5:13 "Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu". Terjemahan LAI ini dapat dibandingkan dengan Terjemahan Lama yang lebih mencerminakan secara hurufiah apa yang ditulis dalam naskah asli -- "Karena djikalau kami hilang akal, maka kepada Allahlah; atau djikalau kami berakal yang njaman, bagi kamulah".

Yang melawan Paulus di Korintus menganggap bahwa dia kurang waras karena kurang atau tidak menguasai diri. Paulus rela dianggap tidak waras demi pelayanannya untuk menyenangkan hati Tuhan. Di lain pihak Paulus menekankan bahwa dia memang waras karena dia tetap berjuang sedapat mungkin untuk pertumbuhan rohani orang-orang Korintus yang dikasihinya. Dia tetap mau memuridkan mereka.

Rahasia Paulus dinyatakan pada 2 Kor 5:14 "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati". Yang dimakusdkan oleh Paulus ialah seluruh keberadaannya (pikiran, sikap, perbuatan, tingkah laku) didorong dan digerakkan oleh kasih Kristus.

Pada 2 Tim 4:5 dalam rangka memberi beberapa petunjuk kepada Timotius sebelum mereka berpisah satu sama lain untuk terakhir kalinya, dengan sengaja, Rasul Paulus menasihati Timotius supaya "kuasailah dirimu dalam segala hal". Tidak mungkin menjadi murid Tuhan Yesus atau hamba Tuhan yang berperanan jikalau kita tidak dapat menguasai diri. Kita juga perhatikan bahwa melalui nasihat ini kepada Timotius, Paulus menghimbau dia untuk sabar menghadapi penderitaan dan mengingatkan bahwa tugas pokok pelayanannya ialah memberitakan Injil. Timotius harus menguasai diri untuk menjadi hamba Tuhan yang mengajarkan murid Tuhan Yesus untuk memuridkan.

Demikian pula Rasul Petrus menyampaikan dorongan kepada kita supaya kita tetap "berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh" pada 2 Petrus 1:3-11. Sama seperti Rasul Paulus di atas, Petrus juga menekankan penguasaan diri pada ayat 6 - "dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan".

Untuk menguasai diri, kita harus mula-mula menjadi 'ciptaan baru' dalam Tuhan (2 Kor 5:17). Hal itu berarti bahwa hidup kita sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan. Hidup kita selanjutnya dipimpin oleh Tuhan karena justru Dialah yang di atas takhta hidup kita. Memang hidup kita dikuasai oleh kasih Kristus. Dengan kata lain hidup kita didorong dan digerakkan oleh Roh Kudus. Demikianlah rahasia menguasai diri.


Pertanyaan
  1. Mengapa sebagai murid Tuhan Yesus, kita bergumul terus menguasai diri dalam aspek-aspek hidup berikut ini:
  • membalas dendam (lihat Roma 12:9-21)?
  • marah terhadap sesamanya (lihat Efesus 4:26)?
  • mengucapkan kata.kata yang kasar ataupun kotor (lihat Yakobus 3:1-11)?
  • tindakan atau perbuatan yang bersifat keras?
  1. di atas
  2. Sebelum Rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius supaya "kuasailah dirimu dalam segala hal", mengapa dia dengan sengaja menekankan peranan firman Tuhan pada 2 Timotius 3:10-17?
  3. Apakah perbedaan antara pendekatan yang lain (misalnya bersemedi dll) untuk menguasai diri daripada nasihat dari Rasul Paulus dan Rasul Petrus mengenai menguasai diri?
  4. Dapatkah kita sebut contoh-contoh dari Tuhan Yesus pada minggu terakhir menjelang kematian-Nya ketika Dia menunjukkan dapat menguasai diri? Bagaimana cara Tuhan Yesus, bahkan di atas kayu salib pun, menunjukkan dapat menguasai diri?


***

dipercantik oleh Ignatius S. Condro A.B.
tetapi bagian penomorannya menjadi tidak cantik karena keterbatasan Blogspot.